Secara bahasa, kata ghaib (غَيْبٌ) berarti ‘ter tutupnya sesuatu dari
pandangan mata’. Karena itu, matahari ketika terbenam atau seseorang
yang tidak berada di tempat juga disebut ghaib (غَيْبٌ). Secara singkat
dapat dikata kan bahwa ghaib (غَيْبٌ) adalah lawan “nyata”.
Ghaib (غَيْبٌ) secara terminologis berarti ‘sesuatu yang tidak bisa
dijangkau manusia’, kecuali bila diinformasikan oleh Allah dan rasul,
atau sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.
Ghaib (غَيْبٌ) di dalam pengertian pertama disebut ghaib nisbi (غَيْبٌ
نِسْبِيٌّ = gaib relatif). Ghaib (غَيْبٌ) di dalam pengertian kedua
disebut ghaib muthlaq (غَيْبٌ مُطْلَقٌ = gaib mutlak). Termasuk kepada
gaib mutlak ini Tuhan, para malaikat, arwah manusia yang telah berpisah
dari kehidupan yang bersifat jasmani, dan lain-lain.
Kata lain yang seakar dengan kata ghaib (غَيْبٌ) ialah ghîbah
(غِيْبَةٌ), yang berarti ‘gunjing’, yaitu menyebut aib orang lain di
belakangnya. Ghayâbun (غَيَابٌ) berarti ‘kubur’. Ghâbah (غَابَةٌ)
berarti ‘rimba atau hutan’. Ghayâbah (غَيَابَةٌ) berarti ‘dasar’,
seperti dasar telaga dan sumur.
Kata ghaib (غَيْبٌ) di dalam bentuk mufrad (tunggal) diulang sebanyak 49
kali di dalam Al-Qur’an, antara lain di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 3 dan
33, QS. آli ‘Imrân [3]: 44 dan 179, serta QS. An-Nisâ’ [4]: 34. Di
dalam bentuk jamak (plural) ghuyûb (غُيُوْبٌ) diulang empat kali, yaitu
di dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 109 dan 116, QS. At-Taubah [9]: 78, serta
QS. Sabâ’ [34]: 48. Di dalam bentuk ism fâ‘il (ghaibîn [غَائِبِيْنَ])
diulang tiga kali, yaitu di dalam QS. Al-A‘râf [7]: 7 serta QS. An-Naml
[27]: 20 dan QS. Al-Infithâr [82]: 75. Kata ghayâbah (غَيَابَةٌ) diulang
dua kali, yaitu di dalam QS. Yûsuf [12]: 10 dan 15.
Kata ghaib (غَيْبٌ) di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 3 disebut di dalam
konteks pembicara an mengenai ciri-ciri orang muttaqîn (مُتَّقِيْنَ),
yang antara lain beriman atau percaya kepada yang gaib. Al-Qurthubi di
dalam tafsirnya, menge muka kan bahwa telah timbul perbedaan penda pat
di dalam menakwilkan kata ghaib (غَيْبٌ). Menurut satu pendapat, ghaib
(غَيْبٌ) ialah Allah swt. Ada yang mengatakan, qadhâ’ (قَضَاءٌ) dan
qadar (قَدَرٌ). Sebagian lagi mengatakan, ghaib (غَيْبٌ) di sini ialah
Al-Qur’an dan apa yang terdapat di dalamnya mengenai ghaib (غَيْبٌ). Ada
lagi yang berpendapat, ghaib (غَيْبٌ) ialah setiap apa yang
diinformasikan oleh rasul Allah swt, namun tidak terjangkau oleh
pancaindra ma nusia, seperti tanda-tanda kiamat, azab kubur, berhimpun
(di padang mahsyar), berbangkit, titian shirâthal mustaqîm, mîzân
(timbangan amal), serta surga dan neraka. Menurut penilian Ibnu Atiyah,
pendapat-pendapat tersebut di atas sebenarnya tidak bertentangan karena
kata ghaib (غَيْبٌ) boleh jadi mencakup semua itu.
Kata ghaib (غَيْبٌ) dikaitkan dengan ilmu Allah yang mengetahui apa yang
gaib dan apa yang nyata. Ini disebutkan antara lain di dalam QS.
Al-Baqarah [2]: 33 QS. Al-An‘âm [6]: 59 dan 73, QS. At-Taubah [9]: 94
dan 105, QS. Yûnus [10]: 20, serta QS. Hûd [11]: 123.
Kata ghaib (غَيْبٌ) juga dihubungkan dengan pernyataan Nabi, bahwa
beliau tidak dapat mengetahui hal-hal gaib, seperti tersebut di dalam
QS. Al-An‘âm [6]: 50, QS. Al-A‘râf [7]: 188, QS. Hûd [11]: 31, dan QS.
Yûsuf [12]: 81.
Kata ghaib (غَيْبٌ) di dalam QS. Yûsuf [12]: 52 diartikan sebagai
‘belakang’, yaitu sesuai dengan konteksnya bahwa Yusuf tidak ber khianat
kepada raja Mesir (‘Aziz) di belakang nya (maksudnya waktu raja sedang
keluar atau tidak berada di rumah), demikian juga pada QS. An-Nisâ’ [4]:
34 yang menguraikan sifat perempuan-perempuan yang saleh/taat.
Kata ghaib (غَيْبٌ) di dalam QS. Fathir [35]: 18 diartikan sebagai
‘sendirian’ atau ‘di tempat yang tersembunyi’. Ada mufasir memahaminya
bahwa mereka takut kepada Allah meskipun mereka tidak melihat-Nya.
Pengertian seperti ini juga terdapat di dalam QS. Yâsîn [36]: 11, QS.
Qâf [50]: 33, QS. Al-Hadîd [57]: 25, dan QS. Al-Mulk [67]: 12. [Hasan
Zaini]





0 komentar:
Posting Komentar