Al-Ghâlib Dan An-Nashîr (Allâh Maha Menang Dan Maha Penolong)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Allâh Azza wa Jalla mengaitkan
hidayah dengan jihad, jadi orang yang paling sempurna hidayahnya adalah
orang yang paling keras jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah jihad
(melawan) nafsu, jihad (melawan) hawa, jihad (melawan) syaitan dan jihad
(melawan) dunia. Barangsiapa berjihad (melawan) empat perkara ini
karena Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh Azza wa Jalla pasti menunjukkan
kepadanya jalan-jalan untuk meraih ridha-Nya yang bisa menghantarkannya
ke surga-Nya. Dan orang yang meninggalkan jihad, maka dia kehilangan
hidayah seukuran jihad yang ditinggalkannya. … dan tidak mungkin
berjihad melawan musuh yang zhahir kecuali oleh orang-orang yang sudah
berjihad melawan musuh-musuh secara bathin. Orang yang mendapatkan
pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh (yang bersifat abstrak) ini,
maka dia akan mendapatkan pertolongan dalam menghadapi musuhnya.
Barangsiapa terkalahkan oleh musuh-musuh (yang empat ini), maka dia akan
dikalahkan oleh musuhnya yang zhahir.
Kesempurnaan Di Atas Kesempurnaan Dalam Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allâh
Penggabungan kedua nama ini menunjukkan kemahasempurnaan lain, yaitu
bahwa semua yang Allâh Azza wa Jalla berlakukan kepada para Nabi-Nya
Azza wa Jalla berupa pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh mereka,
keteguhan iman dan ketinggian derajat mereka adalah bukti dari sifat
rahmat (maha penyayang) Allâh Azza wa Jalla yang dilimpahkan dan
dikhususkan-Nya kepada para Nabi-Nya. Dialah yang menjaga, melindungi
dan menolong mereka dari tipu daya musuh-musuh mereka. Sebaliknya, semua
yang diberlakukan-Nya kepada musuh-musuh para Nabi-Nya k berupa siksaan
dan kebinasaan merupakan bukti sifat maha perkasa-Nya. Maka Dia
Subhanahu wa Ta’ala menolong para Rasul-Nya Azza wa Jalla dengan
rahmat-Nya dan membinasakan musuh-musuh mereka dengan keperkasaan-Nya,
sehingga penyebutan kedua nama ini di ayat-ayat tersebut di atas sangat
sesuai dan tepat
Nama Allâh Al-Ahad Dan Al-Wahid (Yang Maha Esa)
Dua nama Allâh Azza wa Jalla diatas sama-sama menunjukkan ke-Esaan-Nya.
Maksudnya hanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang memiliki sifat
mulia, agung , besar dan bagus. Tidak ada dzat yang mirip dengan
dzat-Nya dan tidak ada sifat yang menyerupai sifat-Nya. Tidak ada sekutu
dan pembantu dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Allâh Azza wa Jalla
satu-satunya sesembahan yang berhak untuk diibadahi, tidak boleh
dipersekutukan dalam hal cinta dan pengagungan. Sikap merendahkan diri
dan tunduk hanya kepada-Nya saja. Dialah Allâh Azza wa Jalla , Dzat yang
agung sifat-Nya, sehingga hanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang layak
untuk menyandang segala kesempurnaan. Tidak ada satu maklukpun yang
mengetahui sifat Allâh Azza wa Jalla atau sebagian dari sifat-Nya dengan
sempurna. Dengan demikian bagaimana mungkin seseorang akan dapat
menyerupai sebagian dari sifat-Nya. Lafadz (al-Wahid) disebut
berulang-ulang dalam al-Qur'ân berkaitan dengan pembahasan dan
penjelasan tentang tauhid serta pembatalan syirik.
Asy-Syaafi, Yang Maha Penyembuh
Nama Allâh Azza wa Jalla yang maha agung ini disebutkan oleh Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahîh. Yakni, dari
Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam selalu membacakan doa perlindungan kepada salah
seorang (anggota) keluarga beliau (dengan) mengusapkan tangan kanan
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya membaca (doa): "Ya Allâh,
Rabb (pencipta dan pelindung) semua manusia, hilangkanlah penyakit ini
dan sembuhkanlah, Engkau adalah asy-Syâfi (Yang Maha Penyembuh), tidak
ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembuhan yang tidak
meninggalkan penyakit (lain)". Juga dalam hadits shahîh yang lain, dari
Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu tentang ruqyah (doa/zikir perlindungan)
yang dibaca oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anas
Radhiyallahu anhu menyebutkan doa yang mirip dengan doa di atas.
Berdasarkan hadits-hadits ini, para Ulama menetapkan nama asy-Syâfi
(Yang Maha Penyembuh) sebagai salah satu dari nama-nama Allâh Subhanahu
wa Ta’ala yang maha indah.
Al-Wadûd, Yang Maha Mencintai Hamba-Hamba-Nya Yang Shaleh
Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dialah (Allâh Azza
wa Jalla) yang dicintai para wali-Nya (hamba-hamba-Nya yang taat
kepada-Nya) dengan kecintaan yang tidak serupa (tidak ada bandingannya)
dengan apapun (di dunia ini). Sebagaimana Dia Azza wa Jalla tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dalam sifat-sifat keagungan,
keindahan, (kesempurnaan) makna dan perbuatan-perbuatan-Nya, maka
kecintaan kepada-Nya di hati hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya sesuai
dengan itu semua, (yaitu) tidak sesuatu pun dari bentuk-bentuk kecintaan
yang menyamainya. Oleh karena itu, kecintaan kepada-Nya adalah landasan
pokok peribadatan (kepada-Nya), dan kecintaan ini mendahalui dan
melebihi semua kecintaan (lainnya). Jika kecintaan-kecintaan lain itu
tidak mengikuti/mendukung kecintaan kepada-Nya, maka semua itu akan
menjadi siksaan (bencana) bagi seorang hamba. Dan Allâh Azza wa Jalla
al-Wadûd, (juga) berarti Dia Azza wa Jalla mencintai para wali-Nya
Keindahan Asmaul Husna
Berbicara tentang keindahan Asmâ-ul Husnâ (nama-nama Allâh Subhanahu wa
Ta’ala yang maha indah) berarti membicarakan suatu kemahaindahan yang
sempurna dan di atas semua keindahan yang mampu digambarkan dan terbetik
oleh akal pikiran manusia. Betapa tidak, Allâh Subhanahu wa Ta’ala
adalah dzat maha indah dan sempurna dalam semua nama dan sifat-Nya, yang
karena kemahaindahan dan kemahasempurnaan inilah maka tidak ada seorang
makhluk pun yang mampu membatasi pujian dan sanjungan yang pantas bagi
kemuliaan-Nya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan
hal ini dalam sebuah doa beliau yang terkenal : "Aku tidak mampu
menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Mu, Engkau adalah
sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Engkau peruntukkan bagi
diri-Mu". Maka, sebagaimana kesempurnaan sifat-sifat-Nya yang tidak
terbatas, demikian pula pujian dan sanjungan bagi-Nya pun tidak
terbatas, karena pujian dan sanjungan itu sesuai dengan dzat yang
dipuji. Oleh karena itu, semua pujian dan sanjungan yang ditujukan
kepada-Nya bagaimanapun banyaknya, panjang lafazhnya dan disampaikan
dengan penuh kesungguhan.
0 komentar:
Posting Komentar